MEDAN – Memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni, menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda dan mahasiswa, untuk merenungkan kembali peran dan kontribusinya bagi kemajuan Indonesia. Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dasar negara semata, melainkan harus dijadikan kompas moral dan pedoman hidup dalam menghadapi dinamika perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PW HIMMAH) Sumatera Utara, Mahdayan Tanjung, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab strategis sebagai agen perubahan, agen kontrol sosial, serta penjaga utama nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, mahasiswa tidak boleh kehilangan arah atau tergerus oleh arus kemajuan teknologi dan informasi yang belum tentu sejalan dengan jati diri bangsa.
Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diimbangi dengan penguatan karakter, integritas, serta rasa kepedulian yang tinggi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Saat ini, berbagai tantangan mulai dari degradasi moral, penyalahgunaan ruang digital, lunturnya rasa solidaritas, hingga melemahnya semangat persatuan menjadi ancaman nyata bagi masa depan bangsa.
“Kita menyaksikan berbagai persoalan yang mengancam masa depan bangsa, mulai dari degradasi moral, penyalahgunaan teknologi digital, rendahnya kepedulian sosial, hingga semakin menurunnya semangat persatuan di kalangan generasi muda. Karena itu, mahasiswa harus kembali menjadikan Pancasila sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak,” ujar Mahdayan Tanjung dalam pernyataannya, Senin (1/6/2026).
Ia menekankan, setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai keadilan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan kesejahteraan sosial yang wajib dijaga dan diamalkan. Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan ruang pembentukan karakter dan pencetakan pemimpin masa depan yang berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat banyak.
“Mahasiswa harus berani menyuarakan kebenaran, mengawal kebijakan publik, serta hadir di tengah masyarakat sebagai solusi atas berbagai persoalan bangsa. Sikap kritis harus tetap dijaga, namun dilakukan secara intelektual, objektif, dan bertanggung jawab demi kemajuan Indonesia,” tambahnya.
Mahdayan juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tidak terjebak dalam sikap apatis, masa bodoh, atau pola pikir yang terlalu individualis. Semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan keberanian memperjuangkan hak masyarakat harus tetap menjadi identitas utama mahasiswa Indonesia.
PW HIMMAH Sumatera Utara mengajak seluruh mahasiswa menjadikan peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini sebagai momen untuk mempererat persaudaraan, meningkatkan kualitas diri, serta memperkuat semangat kebangsaan. Nilai-nilai Pancasila harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, baik melalui prestasi akademik, pengabdian masyarakat, maupun komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Mahasiswa yang berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila akan menjadi generasi yang cerdas, kritis, berintegritas, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih adil dan bermartabat,” pungkasnya. (Red)









